Pada kesempatan kali ini saya akan bercerita terkait pengalaman pribadi saya dalam mengalami sakit kanker darah. Sebelumnya saya akan mengedukasi sedikit apa itu Leukimia. Leukimia adalah kanker darah yang dapat mengakibatkan tubuh terlalu banyak memproduksi darah putih secara berlebihan atau abnormal. Penyakit ini bisa terjadi pada orang dewasa maupun anak-anak. Sel darah putih ini merupakan suatu bagian dari sistem kekebalan tubuh yang diproduksi di dalam sumsum tulang belakang, maka ketika fungsi sumsum tulang belakang tersebut terganggu maka sel darah putih yang dihasilkan akan mengalami perubahan dan tidak lagi menjalani perannya secara efektif.
Adapun
Jenis Leukemia:
1. Leukemia dapat bersifat kronis atau akut.
Pada leukemia kronis, kanker berkembang perlahan dengan gejala awal yang
biasanya ringan. Sementara pada leukemia akut, perkembangan sel kanker terjadi
sangat cepat dan gejalanya bisa memburuk dalam waktu singkat. Leukemia akut
lebih berbahaya daripada leukemia kronis. Berdasarkan jenis sel darah putih
yang terlibat, leukemia terbagi menjadi empat jenis utama, yaitu:
2. Leukemia limfoblastik akut, Acute lymphoblastic leukemia (ALL) atau leukemia limfoblastik akut terjadi ketika sumsum tulang terlalu banyak memproduksi sel darah putih jenis limfosit yang belum matang (limfoblas).
2. Leukemia mielomonositik kronis (chronic
myelomonocytic leukemia)
3. Leukemia promielositik akut (promyelocytic
acute leukemia)
4. Leukemia limfositik granular besar (large
granular lymphocytic leukemia)
5. Juvenile myelomonocytic leukemia, yaitu
jenis leukemia mielomonositik yang menyerang anak usia di bawah 6 tahun.
b. Menderita kelainan genetika, seperti Down Syndrome
c. Menderita kelainan darah, seperti sindrom mielodisplasia
d. Memiliki kebiasaan merokok
e. Pernah menjalani pengobatan kanker dengan kemoterapi atau radioterapi
f. Bekerja di lingkungan yang terpapar bahan kimia, seperti benzena
Gejala
Leukemia, Pada awalnya, leukemia sering kali tidak menimbulkan tanda-tanda.
Gejala baru muncul ketika sel kanker sudah makin berkembang dan mulai menyerang
sel tubuh. Gejala yang muncul pun bervariasi, tergantung jenis leukemia yang
diderita. Namun, secara umum keluhan yang dialami penderita leukemia adalah:
a. Demam dan menggigil
k. Perut terasa tidak nyaman akibat organ hati dan limpa membengkak
Gejala yang lebih berat dapat muncul apabila sel kanker menyumbat pembuluh darah di organ tertentu. Gejala yang dapat muncul meliputi:
a. Sakit kepala hebat
b. Mual dan muntah
c. Otot hilang kendali
d. Nyeri tulang
e. Linglung
f. Kejang
Ketika kita mengalami beberapa gejala di atas maka cepatlah uuntuk periksa ke dokter atau rumah sakit yang sudah ada cek laboratorium. Dengan begitu kita akan mengetahui berapa jumlah Hemoglobin, leoukosit, trombosit, hematokrit, dan eritrosit. Semua itu harus kita ketahui apakah sesuai nilai rujukan atau dibawah dari nilai rujukan.
Pengalaman pribadi saya pada saat bulan Desember pertama kali saya di rawat di rumah sakit Syarif Hidayatullah Jakarta. Pada pukul 03:00 dini hari saya mengalami gejala nyeri perut yang sangat hebat, awalnya saya kira hanya maag saya kambuh namun ternyata saat di cek laboratorium lengkap dimulai dari hemoglobin hingga ke yang lainnya di bawah nilai rujukan. Maka dokter tersebut mendiagnosa saya pertama kali adalah Anemia Aplastik. Transfusi darah pertama kali yang masuk ke dalam tubuh saya berjumlah 2 kantong dengan golongan darah B Resus Positif. Setelah beberapa hari perawatan dan saya kontrol pertama kali ke rumah sakit. Terulang kembali pada bulan Februari saya mengalami gejala nyeri kaki dan nyeri lambung yang sangat hebat, lalu kembalilah ke Instalasi Gawat Darurat Rumah Sakit Syarif Hidayatullah, masih dengan hal yang sama yaitu tranfusi darah kembali sebanyak 2 kantong kembali. Pulang dan kontrol kedua ketika itu dokternya mengajukan rujukan ke Rumah Sakit Umum Pusat Fatmawati. Dimana rumah sakit yang saya bayangkan yaitu ketika kita di rawat di sana maka pulang sudah tak bernyawa karena bayangan saya buruk dan berarti penyakit saya ini sangat berat sampai dokter penyakit dalam syarif hidayatullah sudah tidak bisa menangani saya.
Tanpa berpikir panjang saya pun memutuskan untuk ke rumah sakit hermina ciputat mungkin disana bisa menangani penyakit saya. Ketiga kali saya harus di bawa ke Intalasi Gawat Darurat Rumah Sakit Hermina, disitu saya sudah tak berdaya sama sekali dan saya benar-benar tidak tahu harus apa dengan penanganan yang cukup lambat, dan saya harus bisa menahan sakit dengan orang tua saya berdoa dan saya pun hanya bisa merintih, bershalawat, serta berdoa dalam hati. Dua hari saya di IGD dan pada saat pertama kali masuk ke ruang perawatan hermina saya harus masuk HCU (High Care Unit). Jujur pertama kali kaget banget langsung masuk ke ruang tersebut. Di ruang perawatan saya mendapatkan tranfusi darah sebanyak 4 kantong karena hemoglobin saya hanya berjumlah 4000 saja jauh dari nilai rujukan yang seharusnya 11.000. Namun mendapatkan darah tersebut keluarga saya harus membayar kurir untuk mengambil darah di PMII Kota Tangerang Selatan.
Ada pengalaman berbeda dimasuk ke rumah
sakit ke empat kalinya, pagi harinya saya masih mengikuti seminar fatayat
Nahdlatul Ulama bersama Ning Fierda Rofi’i Yaqub terkait digital dan pada malam
harinya saya harus masuk kembali ke Instalasi Gawat Darurat Rumah Sakit
Hermina, saya bermalam disana lalu tertidurlah saya. Sekitar pukul 04:00 pagi
hari tiba-tiba saya ingin dibawa ke Instalasi Care Unit (ICU) dan sudah memakai
kateter atau sebuah pipa panjang yang terbuat dari bahan karet dan lentur untuk
mengeluarkan cairan urine. Tanpa sempat salim dan pamitan kepada ibu dan bapak
saya sudah berada di dalam ICU tersebut. Tangisan pecah dalam hati dengan
berkata “ya allah aku ingin bersama ibu dan bapak ku maka jangan pisahkan aku
lama-lama dengan mereka.” Hidup mandiri mulai ku asah dimulai dari makan
sendiri, ambil minum sendiri walaupun jauh dan sakit saat bergerak dengan
memakai kateter. Saat makan saya memikirkan apakah orang tuaku sudah makan atau
masih sedih, nafsu makan turun drastis karena memikirkan orang tua di luar.
Pemandangan yang sangat menegangkan di ruang ICU membuat semakin saya tak
selera makan. Dimulai dari yang sakit berat sampai yang sudah berada di ujung
nyawa. Sungguh sangat membuat saya tak lagi ingin masuk ke ruangan tersebut.
Perawatan kelima, saya pun harus merasakan kembali untuk mendapatkan perawatan
intensif dikarenakan Hemoglobin saya pada angka 4.000. Dengan angka tersebut
membuat saya harus tranfusi darah 4 kantong kembali. Seperti biasa keluarga
saya harus membayar seseorang untuk mengambil darah kembali di PMI Kota
Tangerang Selatan. Namun di perawatan kelima saya tepatnya di RS Hermina Kota Tangerang
Selatan, saya harus pulang dengan keadaan yang masih sangat-sangat lemah sampai
saya tidak bisa berjalan sama sekali atau lebih tepatnya saya harus berbaring
di kasur tanpa bisa bangun kembali.
Pada
esok harinya, tante dan om saya memutuskan untuk dibawa ke Rumah Sakit besar
yaitu RSUP Fatmawati. Masuklah ke IGD RSUP Fatmawati pertama kali melihat
dalamnya sungguh rasanya saya ingin sekali keluar dari tempat tersebut karena
banyaknya pasien yang membuat saya trauma dengan bunyi alat-alat seperti
perlombaan mana yang tetap bertahan dan mana yang menyerah lebih dahulu. Saya menangis
dan berkata “Alma ga mau disini pak, ayo kita pulang aja. Ikhlasin alma aja ya pak,
alma pokoknya mau pulang ga mau disini”. Bapak saya berkata “alma harus sembuh,
alma ga boleh bilang seperti itu pokoknya alma harus sembuh ada bapak sama
mamah”. Tanpa bantahan akhirnya aku nurut walaupun aku harus nutup mata dan telinga
ku sendiri. Saya menunggu di kasur yang sangat keras sekali sampai rasanya
pinggang dan leher saya sangat sakit, AC yang sangat dingin membuat saya menggigil.
Tanpa adanya persiapan apapun jadi saya merasa tidak nyaman. Sehari di IGD
dengan suara bising alat-alat, suster yang keliling, bahkan sampai pasien yang gawat
semua saya lihat dengan mata dan telinga saya sendiri.
Tepat pukul 22:00 WIB
saya dipindahkan ke tempat kamar rawat di lantai 6 ruang teratai. Tepat pada
jam itu datanglah dokter yang pertama kali memeriksa ku dengan pakaian yang
rapih dan memakai masker serta kacamata. Membuat saya terpana yang awalnya merasakan
sakit yang cukup menguras air mata dan hati yang hancur tetiba hilang semua
rasa sakit tersebut hanya dalam beberapa menit. Karena ada dokter visit, beliau
memperkenalkan diri “perkenalkan saya dokter bayu, yang akan memeriksa. Nama
kaka siapa?”, nama saya almaidah dokter (saya menjawab pertanyaan
dokter bayu). “oh saya panggil ka alma aja ya, sekarang apa yang lagi kaka
rasain sakitnya ?”, saya ceritakan apa yang saya rasakan dimulai dari sakit
kaki, sakit pinggang, hingga sampai tidak bisa bangun duduk. Saya bilang kalau
akan dilakukan tindakan BMP atau pengambilan cairan sumsum di bagian dada pada
tanggal 06 Juli 2023.
Di
hari ke empat dalam masa perawatan di Rs sampai sekitar tujuh hari, saya sama
sekali tidak ada asupan makanan maupun minuman yang masuk ditubuh saya.
Akhirnya dokter bayu memutuskan untuk memberikan cairan yang seperti saya makan
dua piring nasi. Karena hanya cairan pahit yang keluar dari lambung saya.
Dokter bayu memberikan pesan kepada kedua orang tua saya “pak, ibu tolong
jangan paksa ka alma untuk makan ya karena memang karena penyakitnya ini yang
buat ga bisa makan, saya sudah kasih cairan yang seperti ka alma makan dua
piring nasi lewat infusan kok. Jadi jangan di paksa ya.”
Beberapa
hari menuju tindakan BMP (Bone Marrow Puncie) atau yang biasa kita kenal yaitu pemeriksaan
sumsum tulang belakang untuk mengetahui penyakit yang sebenarnya ada didalam
tubuh kita. Di beberapa hari tersebut saya kehilangan diri saya pribadi. Seperti
bukan diri saya akan tetapi merasakan saya sudah tiada di dunia ini. Entah
hanya tangisan demi tangisan yang saya keluarkan pada saat itu memperbanyak
baca istighfar dengan tasbih digital yang selalu saya pakai di jari saya dan
khulashoh yang selalu saya bawa kemanapun saya pergi, khulashoh tersebut
seperti teman saya, pacar saya, dan sumber kekuatan saya. Ratib Al-Haddad
selalu saya dawamkan karena pesan dari Bunyai Hj. Nur Eka Fatimatuzzahroh maka
dari itu saya selalu manut untuk mendawamkannya. Pada saat sepupu bapak saya
datang yaitu ka Febriani Yahya beliau adalah wanita yang sangat kuat dan hebat,
beliau sosok yang mengajarkan saya bahwa semua ini sudah menjadi takdir dari Allah
SWT. Dengan kuat nya beliau menghadapi penyakit autoimunnya saya termotivasi
menjadi sosok yang kuat juga seperti beliau. Ketika beliau datang saya langsung
memeluknya dan mengeluarkan air mata tanpa malu apapun kepada beliau dengan
berkata “ka ebi..sakit ka huuahhh alma takut ka..alma takut meninggal ka.” Lalu
ka ebi pun bilang “menangislah sayang di pelukan ka ebi, apapun yang buat alma lega
keluarkan saja sekarang.” Aku bertanya kembali “ka ebi di suntik di dada itu
sakit ga sih?” lalu dengan tenang dan lembut ka ebi pun menjawab “sakit sedikit
kok seperti di gigit semut aja.”
“emang bener?, kan di suntiknya di dada, ngga meninggal kan ka tapi?.” Dengan polosnya diriku berkata seperti itu. Dengan sadar ka ebi pun tertawa menangkap ucapan polosku itu “hahhaa ngga lah ini buktinya ka ebi masih di depan alma berarti ngga meninggal dong, alma pasti kuat kok di tanamkan dalam pikiran alma bahwa ini ga sakit.” Mulai detik itu juga aku berpikir positif “ya ini tidak sakit, kecil kok yah gini doangan.” Padahal di bawah alam sadar saya banyak sekali ketakutan yang aku rasakan. Apakah aku bisa meninggal saat itu juga atau aku akan sembuh semua Allah SWT yang mengetahuinya.
“Alma harus makan ya
sedikit aja nih aku suapin deh. Kapan lagi di suapin sama ka ebi ya kan hihi,” ka
ebi dengan senyuman indah nan manis tersebut membujuk ku untuk makan walaupun
sesuap saja karena sudah beberapa hari sama sekali tidak ada makanan dan cairan
yang masuk ke dalam tubuh. Aku mencoba satu suapan dan benar saja keluar kembali
baru saja masuk sendok ke dalam mulutku aku sudah mengeluarkan kembali. Dan ya menangis
lagi dan lagi dalam pelukan ka ebi. Hanya tangisan yang aku bisa saat itu. “ka
ebi ga bisa makan huuuah aku ga mau makan pahit ka.” Dengan melihat diriku yang
tak bisa makan ka ebi menawarkan “Yaudah alma mau apa ? puding mau ?”. penawaran
terbaik tapi apalah daya yang tak bisa makan apapun padahal itu kesukaan aku
banget. “alma maunya pulang aja ga mau disini alma ga suka disini.”, jangan
minta pulang sebelum dokter bayu bilang pulang. Sini ka ebi coba tenangin alma
ya. Nanti alma ikutin kata ka ebi.
Aku mengikuti arahan
yang ka ebi suruh dan aku pun merasakan ketenangan. Beberapa menit aku bisa
tersenyum kembali dengan tulus. “alhamdulillah akhirnya alma bisa tenang, alma
jangan takut lagi ya ada Allah SWT dan Rasulullah SAW yang selalu ada untuk
alma. Ka ebi cuman perantara saja yang tuhan kirim untuk menenangkan alma. Disini
kan ada dokter ganteng katanya kan hihi nah bisa jadi penyemangat tuh buat alma
biar sembuh wkwk.”
Tepat pada tanggal 06
Juli 2023 saya melakukan tindakan BMP tersebut di gedung bougenvile, mamah,
bapak, dan adik mamah saya selalu menemani saya. Tiba di depan ruangan saya mengencangkan
membaca ratib al haddad itu agar saya bisa merasakan tenang dan tidak ada rasa
ketakutan dalam diri saya. Saatnya saya masuk ke dalam ruangan wow ternyata dokter
diah toh yang melakukan tindakannya. “eh alma ketemu lagi kita hihi.”, dengan tegur
sapa beliau langsung mempersiapkan tindakan dengan dibantu oleh dua suster. “Gimana
sudah siap?” beliau bertanya kepada saya dengan melihat kecemasan diwajah saya
hihi. “insya Allah siap dok.” Ok kita mulai ya, ini ga sakit kok nanti dokter
diah kasih obat anastesi nya (kekebalan).
Saya terus bershalawat
kepada Nabi Muhammad SAW agar tidak merasakan kesakitan saat tindakan. Ya walaupun
dipikir dengan logika suntik di dada itu mengerikan tapi alhamdulillah tidak
sama sekali guyss. Sekitar 30 menit tindakan tersebut di lakukan, alhamdulillah
tidak ada rasa sakit sedikitpun walaupun pada akhirnya ada pendaharan di dada
saya keluar darah yang cukup banyak tapi saya sama sekali tidak merasakan sakit
apapun dan suster langsung mengganti kembali perban serta pemakaian betadine ke
dada saya. Sudah selesai mengganti perban nya, lalu suster tersebut berkata “ini
jangan sampai kena air selama 3 hari ya cantik, nanti kalo sudah tiga hari baru
boleh di lepas.”, “baik sus”. Kembalilah ke ruangan tersebut dan aku langsung
terlelap hingga malam hari. Bangun-bangun ternyata sudah maghrib. Dokter bayu
pada saat itu visit kembali dan bertanya “gimana sudah tindakan BMP nya?”. Alhamdulillah
sudah dok.
Hari demi hari yang ku
lihat dan ku rasakan hanya itu saja sangat membosankan. Rasanya aku ingin
melihat ke luar rumah sakit dan menghirup udara segar. Aku melihat ponsel ku setelah
beberapa hari di perawatan aku tidak menyentuh hp karena males dengan dunia
persosmed an wkwk itulah mengapa aku sering menghilang sejak setahun kemarin. Saya
hanya gunakan untuk saat ada kajian dan kuliah saja. Walaupun dalam perawatan
aku tetap mengikuti kegiatan perkuliahan dan kajian itulah bentuk hiburan aku
selama masa sumpek perawatan. Yang pertama kali aku lihat adalah status bunyai
balqis iskandar, wah ternyata ada kajian bunyai balqis, aku langsung hubungi
admin dan malam hari nya aku mengikuti hingga sampai jam 10 malam. Ke esokan
harinya dokter bayu visit kembali, seperti biasa tiba-tiba saja datang saat aku
membaca ratib al haddad. Dengan kaget aku melihat sesuatu aku bilang “astaghfirullah
dok kaget dikirain siapa.” Dengan tanpa dosa sudah mengagetkan wkwk dokter bayu
hanya ketawa saja. Pemeriksaan dimulai dari tensi sampai memakai stetoskop. Hanya
beberapa menit saja beliau visit dan pergi dengan seperti biasa mengelus belakang
punggung bahu ku sebagai bentuk memberikan ketenangan dan kesabaran kepada
pasiennya.
Dokter bayu meminta bapak
dan adik mamah untuk menjauh terlebih dahulu dari saya karena ada yang ingin
dibicarakan. Entah percakapan apa yang mereka bicarakan dengan sangat serius
muka mereka dan saya yang semakin penasaran hanya bisa memandang dan berfikir
apa sih yang di bicarakan. Setelah mereka berbincang saya pun bertanya “apa
yang di bicarakan sama dokter bayu pak?”, bapak pun menjawab dan tak ada maksud
untuk buat aku cemas “cuman ngomong kalo entar udah membaik bisa pulang.” Mungkin
maksudnya menghibur ku kali ya. Sebenarnya sih aku ga percaya apa yang di bilang
bapak wkwk. Aku tanyalah kepada adik nya mamah “mi, apa yang di bicarain sama dokter
bayu?.”, umi kasih tahu tapi kamu jangan nangis ya janji sama umi?. “Iya aku
janji.”, kamu sakit leukimia al. Jedarr berasa di sambar petir dan mamah saya pun
langsung lemes saat mendengar kata leukimia. Ternyata apa yang di bilang dokter
diah saat kontrol waktu itu terjadi juga. Aku tidak bisa berfikir jernih dan
wah apa umur saya sampai disini saja dan masih banyak lagi fikiran negatif yang
ada di otak saya. Entah saya harus respon seperti apa, harus bagaimana, dan ga
tahu mau ngapain. Ya itu bagaikan diri yang kesambar dengan petir. Adik dari
mamah langsung mengabari saudara-saudara di grup whatsapp keluarga bahwa alma
sakit leukimia (blood cancer). Aku tidak tahu reaksi mereka apa karena aku hanya
menangis saat itu dan bengong saja dengan fikiran yang kacau ya sangat kacau
bagaikan tak punya pegangan.
Beberapa hari kemudian
dokter bayu visit dan ngobrol berdua bersamaku. “ka alma, sudah tahu penyakit ka
alma apa ?” pertanyaan yang saat itu di lontarkan oleh dokter bayu kepadaku. Dan
aku menjawab nya dengan senyuman dan tertawa kecil “sakit leukimia hihihi.” Mungkin
orang lain ketika di tanya tersebut dan menjawabnya pasti tidak bisa karena itu
penyakit yang nomor satu dengan dibarengi oleh kematian. Lalu dokter bayu pun
bilang “gue ngeri nih sakit leukimia malah ketawa ketiwi.” Lalu di dalam hatiku
berkata “ya terus gue harus reaksi apa guys toh ga bisa gue cabut juga nih
penyakit wkwk.” Dengan penjelasan demi penjelasan dari dokter bayu yang
tertatur dan tidak membuat pasien takut, tiba di saat kalimat “mematikan”
jedarr air mata tidak bisa lagi aku tahan dan alhasil keluarlah di depan dokter
bayu walaupun tidak deres hanya air mata kecil so manja aja wkwk. Melihat aku
yang awalnya ketawa sampai mengeluarkan air mata hihi dokter bayu dengan sigap
mengelus kembali punggung bahu ku. Dan aku bilang “apa harus dengan kemoterapi
dok?”
“Penyakit leukimia ini memang seharusnya cara pengobatannya
adalah dengan kemoterapi ka, tapi kalau ka alma tidak ingin kemoterapi tidak
apa-apa semua keputusan ada di ka alma. Resiko yang paling tinggi adalah ‘Kematian’,
ka alma mah masih muda cuman penyakit ini aja ga ada penyakit lain gue yakin alma
pasti kuat dan semangat. Monggo (silahkan dalam bahasa jawa kromo) di diskusikan
terlebih dahulu dengan bapak dan mamah. Besok saya kesini lagi ya ka.” Begitulah penjelasan dari dokter bayu pada suasana
sore hari yang sejuk, dokter yang mengerti keadaan kondisi pasien. Tanpa berfikir
panjang aku telfon ka febriani yahya dengan tangisan yang biasa aku berikan kepada
beliau “assalamualaikum ka ebi, tadi dokter bayu visit ka beliau bilang aku
leukimia dan pengobatannya harus dengan kemoterapi. Beliau tidak memaksa sih
tapi ini jalan satu-satunya pengobatan alma ka. Efek nya kematian..alma ga mau
meninggal ka huuuahh alma takut ka..alma takutt..kaka alma harus gimana..”
seperti itu lah percakapan ku sambil sesegukan dan air mata selalu berlinang di
pipi ku. Beliau dengan sigap memahami kodisi ku yang entah tidak tahu harus
melakukan apa dan dengan ketenangan beliau berkata “alma ga apa-apa kok
kemoterapi ikuti perintah dokter bayu insya Allah dengan kepercayaan kita pasti
akan di beri kemudahan, kekuatan, dan kesembuhan untuk alma. Alma harus kuat
untuk mamah, bapak, dan orang-orang yang sayang sama alma banyak loh. Ayo alma
berjuang ya sayang kita sama-sama bakal bantu alma, selalu di samping alma. Kalo
alma mau nangis ga apa-apa kok nangis aja keluarin semuanya.”
Tepat pada jam 09:00 pagi hari dengan keadaan
masih belum bisa masuk makanan dan minuman apapun, seperti biasa aku selalu
mendawamkan ratib al haddad walaupun kondisi apapun semoga saya istiqomah
sampai waktunya tiba bertemu dengan para kekasih di atas sana aamiin. Dokter bayu
kembali mendatangi ruang perawatan saya. Memeriksa dengan stetoskop dan tensi tekanan
darah. “alhamdulillah sudah normal tensinya ka, bagaimana ka apakah mau untuk
kemoterapi?, bisa jadi nanti abis kemo ka alma bisa makan,nafsu makannya tambah,
lebih sehat dari sekarang. Saya bakal selalu ada disamping ka alma.” Jawaban
saya adalah “Alhamdulillah dok sudah menemukan jawabannya. Insya Allah alma
siap kemoterapi dan alma siap menanggung segala resikonya walaupun nanti harus
terhenti di tengah jalan alma sudah siap untuk semunya”. Baiklah ka alma nanti ada
beberapa surat yang harus di isi ya. Sambil mengelus kembali pundak saya dan
selalu memberikan energi positif kepada pasien nya.
Suasana masih seperti biasanya dengan banyaknya
suara rintihan dan suster berhalu lalang dengan membawa dorongan tempat obat
hihi itu yang selalu aku takuti karena disuntik obat lambung dan nyeri sampai
ke urat menjalar hingga atas dan anak perempuan ini so kuat sambil mengelus
pelan-pelan tangannya. Waktu hampir memasuki shalat dzuhur tiba-tiba adik dari
mamah setelah dipanggil oleh suster bertanya kepada saya “alma punya temen yang
darah nya b resus positif ga, sekitar 10 orang.” Aku yang langsung teringat
dengan dosen kuliah ku sama seperti apa yang ku alami saat itu yaitu mencari
donor darah. Tangisan itu pecah kembali dan pikiran mati ku semakin meningkat
wah bener ini kayanya aku bakal mati lebih cepat sampai harus mencari donor
darah sebanyak itu. “buat apa mi? Huuuahh mamah ini sama kaya almarhum pa rusli.
Alma ga mau meninggal dulu mah.”
Mamah langsung membuka handphone dan mengabari
ke saudara-saudara untuk membantu mencarikan pendonor darah. Dengan gerak cepat
dan inisiatif dari keponakan mamah yaitu ka rahma ayu syafita beliau langsung
membuat status dan diikuti oleh kaka-kaka sepupu lainnya. Cukup sulit memang
mencari pendonor darah golongan B resus positif. Aku pun ikutan membuka sosial
media dan men-tag instagram para nawaning jabodetabek dan yang aku kenal untuk
membantu ku mencarikan pendonor darah daerah jabodetabek. Pesan terus masuk ke
sosial media ku mendoakanku dan memberikan aku semangat. Terutama kepada bunyai
eka fatimatuzzahroh beliau video call aku untuk memberikan dawuhan kepadaku dan
memberikan semangat kepadaku, tanpa aku duga sama sekali ning nyai afie iskandar
yang sedang berkhidmah dengan para jamaah yang berada di madinah beliau me
whatsapp saya bahwa beliau kepikiran saya saat berada di madinah. Masya Allah
tabarakallah beliau mendoakan saya disana dan saya merasa sangat senang sekali
beruntung sekali telah dicintai oleh para wanita shalihah guru-guru mulia saya
terutama bunyai eka, ning widad, ning nuvis, ning fierda, para nawaning, para teman-teman
ahlul khidmah saadatul akhyar, para asatidzah lainnya. Itulah suatu kenikmatan
dan hadiah yang Allah berikan kepada saya. Saya berharap bisa kembali menemui
mereka secara dzohir.
Keesokan
harinya sepupu dari bapak mengabari melalui telephone, beliau berkata “assalamualaikum
alma, ini ka ebi nanti ka ebi kesana ya ada yang mau donor darah tolong kirim alamatnya
harus ke ruangan apa ya ke whatsapp ka ebi”, beliau langsung on the way ke RSUP
Fatmawati, pada saat jam istirahat beliau menyempatkan waktu untuk bertemu
denganku dalan keadaan sudah cukup lumayan membaik dari hari sebelumnya. Beliau
menyapaku “hai alma, gimana kabarnya hari ini lebih sehat kan ?” dengan keramahan
beliau yang sangat menjadi ciri khas beliau kepada semua orang baik yang mengenalnya
maupun belum mengenalnya. Lalu, akupun menjawabnya “alhamdulillah bi kheyr ka
ebi hehe sudah sedikit ga kaya orang bego sih wkwk.” Semuanya tertawa melihat
aku yang sudah kembali ceria, hingga waktu sudah mendekati waktu sore hari beliau
ada jam mengajar menggantikan dosen beliau di kampus beliau hihi dan beliau
berpamitan.
Pada sore
hari nya ada abang saya super duper ngeselin dan pengen banget gue usir rasanya
wkwk tapi kalo ada dia rasanya gue ga ngerasa sakit sama sekali karena beliau
selalu melakukan hal konyol yang buat gue ketawa. “ngapain lo disini yeahh btw
lu abis dari kampus?” dengan nada yang songong gue alias gengsi ngomong
baik-baik sama manusia seperti abang sepupu saya itu. “yeah bilang aja lo kangen
gue kan, seneng kan lo gue tengokin” dengan tingkat kepedean yang sangat tinggi
dan sangat menjijikan sekali mimik wajahnya wkwk tapi iya juga sih seneng ada
nih anak wkwk. “lu mau jus jambu ga, ntar gue beliin.” Tumbenan amad nih anak
ada angin apakah mau beliin adek yang imute ini jus wkwk biasanya harus ada
pemaksaan terlebih dahulu dari adeknya karena manusia ini orang nya mageran dan
paling sibuk dengan dunia perkuliahannya. “mau lah tapi jangan manis-manis ya
gue tampol lu manis-manis terus es nya jangan banyak-banyak ya, btw makasih abang
terjelekkk.” Sekitar tiga puluh menit ternyata rasanya pengen banget gue maki-maki
nih anak wkwk es nya banyak terus manis banget jus nya wkwk “ih patan lu mah
ini namanya gue ga bisa minum.” Dengan santai nya beliau malah menjawab “Wkwkwk
sengaja gue beliin kek gtu”, memang manusia ini ga ada akhlak sama sekali huuuh
rasanya pengen banget gue usir.
Mendekati
hari terakhir pada ruangan rawat inap ya sekitar dua minggu saya merasakan
ruangan yang banyak sekali kenangan dan tangisan demi tangisan, ketawa yang sudah
mulai ceria, dan bertemu dengan orang-orang baik itulah yang menjadi cerita
sejarah bagi diriku. Memang rasanya berat sekali menghadapi hari-hari disana. Sebelum
esoknya di nyatakan boleh kembali pulang di hari jumat lebih tepatnya saya melakukan
kemoterapi pertama dengan ditemani oleh umi saya. Tiba di tempat ruangan kemoterapi
saya melihat lah kok di infus apakah ini seperti infusan biasa ? aku bertanya
dalam hatiku yang sudah terbaring di tempat tidur dan dalam ruangan suhu sangat
dingin sekali hehe tapi untung saya membawa selimut jadi amanlah tidak terlalu merasakan
kedinginan.
Tiba-tiba ada dokter bayu sudah ada di ruangan kemoterapi menyapa saya “hai ka alma cie kemo pertama ya semangat ya ka pasti kuat kok cuman sebentar saja kok ga lama.” Aku sambil tersenyum dan seperti biasa aku selalu ditemani dengan buku khulashah yang sudah ku anggap seperti kekasih ku sendiri azekk. “nggih dok insya allah semangat hihi.”
Aku
membaca ratib al haddad dalam buku khulashah tersebut ternyata setelah selesai
ku membaca ratib al haddad maka selesai pula kemoterapi ku yang pertama. Lalu aku
di antar kembali ke ruangan teratai dan aku melihat dokter bayu di depan kamarku
sedang berdiskusi dengan dokter senior nya. Aku kaget ketika beliau menyapa ku kembali
padahal beliau sedang berbicara dengan dokter senior nya “halo ka alma eh udah
selesai ya.” Aku yang hanya mendengar sapaan tanpa melihat nya karena
menundukkan pandanganku hehe btw banyak banget dokter cowo lainnya dan aku tidak
terlalu menyukai untuk melihat banyak anak cowo dalam suatu perkumpulan hihi. Lalu
aku hanya tersenyum tanpa membalas sapaan dokter bayu hihi. (maaf dok menjaga
marwah saya di depan dokter yang lainnya wkwk).
Sore hari
nya dokter bayu visit kembali ke tempat ku dengan pakaian yang rapih dan
seperti biasa membawa alat tensi. Aku yang sedang makan karena alhamdulillah
sudah bisa masuk makanan dikarenakan abis kemoterapi nafsu makanku bertambah
bahkan aku merasakan kelaperan terus rasanya ingin makan hihi. Beliau menyapa
ku “alhamdulillah ka alma sudah bisa makan berarti infusan ini di copot aja ya
ka hehe kan udah bisa makan, kan saya bilang apa bisa jadi dengan kemo ka alma udah
ga mual lagi semoga segera sehat dan sembuh kembali ya ka. Gue yakin ka alma
bisa sehat lagi. Minggu ka alma sudah bisa pulang ya.” Begitulah keyakinan
beliau terhadap pasiennya, seakan-akan beliau memposisikan dirinya menjadi
pasien.
Hari sabtu
pagi pun tiba beliau seperti biasa visit dan ternyata hari tersebut adalah hari
terakhir beliau suatu kenangan indah sebelum perpisahan beliau tertawa bahagia
sampai aku berkata ke dokter bayu “ihh dok jangan ketawa-ketawa takutnya nanti suster
ngelihat nya aneh.” Ucapku kepada dokter bayu. Dengan senyuman beliau dan beliau
berkata “ngga kok ka wkwk tidak ada yang melihat juga suster nya wkwk.” Beliau pergi
dan aku hanya melihatnya hingga tidak bisa ku lihat kembali.
Hari minggu
adalah waktunya tiba ku pulang, aku berharap di hari ini adalah hari terakhir
ku melihat dokter bayu dan ternyata aku salah, bertanya lah aku kepada suster
yang sedang membuka infusan di tangan ku “sus dokter bayu visit tidak hari ini?”,
lalu suster tersebut menjawab “hari ini dokter bayu sudah pindah ke rumah sakit
lain ka.” Aku termenung dan menyesal kenapa ga hari kemarin aku meminta nomor
telephone nya ya biar aku ga putus komunikasi sama beliau. Aku membuka kembali
ponsel ku sudah beberapa hari saya menghilang dari dunia sosial media wkwk dan
ada whatsapp dari ka ebi “gimana al udah bisa pulang hari ini”, iya ka alhamdulillah
sudah bisa pulang tapi sedih karena dokter bayu nya udah pindah ke rs lain
wkwk.”
“Ya dia
sedih di tinggal dokter ganteng nya wkwk.” Ledek ka ebi kepada ku yang murung
karena dokter ganteng nya pergi tanpa pamit wkwk. Aku punya inisiatif cari aja ya
instagram nya tapi aku taunya nama nya dokter bayu doangan wkwk ga tau nama
lengkapnya. Dapatlah instagram beliau ternyata beliau dokter internist dari
rscm jakarta pusat. Alumi kedokteran kampus Universitas Indonesia.
BERSAMBUNG WKWK...

Comments
Post a Comment