Skip to main content

KETIKA LEUKIMIA HADIR TANPA DIUNDANG

    KETIKA LEUKIMIA HADIR TANPA DI UNDANG 
   


    Perkenalkan saya Almaidah, seorang mahasiswi semester tujuh di kampus Sekolah Tinggi Agama Islam Muslim Asia Afrika. Kampus yang berada di kota Tangerang Selatan. Ditulisan ini saya ingin sedikit berbagi kisah awal mula diriku diberi ujian oleh Allah SWT berupa penyakit Leukimia atau yang biasa kita sebut adalah Boold Cancer (Kanker Darah). Ketika kita mendengar kata cancer ini maka yang ada di fikiran kita adalah pendek usia dan semakin mendekati dengan kematian. Tapi ternyata tidak semua manusia ketika mendapatkan penyakit tersebut berakhir dengan kematian ada pula yang sembuh total dan berhasil pengobatan kemoterapinya. Bagaimana cara kita menyikapi penyakit tersebut ada dua pilihan yaitu : dengan sisi negatif yang memikirkan tidak adanya kesembuhan atau dengan sisi positif, semangat, kebahagiaan atau keceriaan hingga proses pengobatan selesai dan dinyatakan sembuh total.

        Pada kesempatan kali ini saya akan bercerita terkait pengalaman pribadi saya dalam mengalami sakit kanker darah. Sebelumnya saya akan mengedukasi sedikit apa itu Leukimia. Leukimia adalah kanker darah yang dapat mengakibatkan tubuh terlalu banyak memproduksi darah putih secara berlebihan atau abnormal. Penyakit ini bisa terjadi pada orang dewasa maupun anak-anak. Sel darah putih ini merupakan suatu bagian dari sistem kekebalan tubuh yang diproduksi di dalam sumsum tulang belakang, maka ketika fungsi sumsum tulang belakang tersebut terganggu maka sel darah putih yang dihasilkan akan mengalami perubahan dan tidak lagi menjalani perannya secara efektif.

 

Adapun Jenis Leukemia:

         

1.    Leukemia dapat bersifat kronis atau akut. Pada leukemia kronis, kanker berkembang perlahan dengan gejala awal yang biasanya ringan. Sementara pada leukemia akut, perkembangan sel kanker terjadi sangat cepat dan gejalanya bisa memburuk dalam waktu singkat. Leukemia akut lebih berbahaya daripada leukemia kronis. Berdasarkan jenis sel darah putih yang terlibat, leukemia terbagi menjadi empat jenis utama, yaitu:

2.    Leukemia limfoblastik akut, Acute lymphoblastic leukemia (ALL) atau leukemia limfoblastik akut terjadi ketika sumsum tulang terlalu banyak memproduksi sel darah putih jenis limfosit yang belum matang (limfoblas).

 3.    Leukemia limfositik kronis, Chronic lymphocytic leukemia (CLL) atau leukemia limfositik kronis terjadi ketika sumsum tulang terlalu banyak memproduksi limfosit yang tidak normal dan secara perlahan menyebabkan kanker.

 4.    Leukemia mieloblastik akut, Acute myeloblastic leukemia (AML) atau leukemia mieloblastik akut terjadi ketika sumsum tulang terlalu banyak memproduksi sel mieloid yang tidak matang atau mieloblas.

 5.    Leukemia mielositik kronis, Chronic myelocytic leukemia (CML) atau leukemia mielositik kronis terjadi ketika sumsum tulang tidak mampu memproduksi sel mieloid yang matang.

 

  Selain keempat jenis leukemia di atas, ada beberapa jenis leukemia lain yang jarang terjadi, di antaranya:

 1.    Leukemia sel rambut (hairy cell leukemia)

2.    Leukemia mielomonositik kronis (chronic myelomonocytic leukemia)

3.    Leukemia promielositik akut (promyelocytic acute leukemia)

4.    Leukemia limfositik granular besar (large granular lymphocytic leukemia)

5.    Juvenile myelomonocytic leukemia, yaitu jenis leukemia mielomonositik yang menyerang anak usia di bawah 6 tahun.

   Penyebab Leukemia, Leukemia disebabkan oleh kelainan pada sel darah putih yang membuatnya tumbuh secara tidak terkendali. Belum diketahui secara pasti mengapa hal tersebut terjadi, tetapi ada beberapa faktor yang diduga dapat meningkatkan risiko terkena leukemia, yaitu:

 a.    Memiliki anggota keluarga yang pernah menderita leukemia

 
b.    Menderita kelainan genetika, seperti Down Syndrome
 
c.    Menderita kelainan darah, seperti sindrom mielodisplasia
 
d.    Memiliki kebiasaan merokok
 
e.    Pernah menjalani pengobatan kanker dengan kemoterapi atau radioterapi
 
f.     Bekerja di lingkungan yang terpapar bahan kimia, seperti benzena

 

Gejala Leukemia, Pada awalnya, leukemia sering kali tidak menimbulkan tanda-tanda. Gejala baru muncul ketika sel kanker sudah makin berkembang dan mulai menyerang sel tubuh. Gejala yang muncul pun bervariasi, tergantung jenis leukemia yang diderita. Namun, secara umum keluhan yang dialami penderita leukemia adalah:

 

a.    Demam dan menggigil

 b.    Lelah yang tidak hilang meski sudah beristirahat

 c.    Berat badan turun drastis

 d.    Gejala anemia

 e.    Bintik merah di kulit

 f.     Mimisan

 g.    Tubuh mudah memar

 h.    Keringat berlebihan (terutama pada malam hari)

 i.      Mudah terkena infeksi

 j.      Muncul benjolan di leher akibat pembengkakan kelenjar getah bening

k.    Perut terasa tidak nyaman akibat organ hati dan limpa membengkak

Gejala yang lebih berat dapat muncul apabila sel kanker menyumbat pembuluh darah di organ tertentu. Gejala yang dapat muncul meliputi:

a.    Sakit kepala hebat

b.    Mual dan muntah

c.    Otot hilang kendali

d.    Nyeri tulang

e.    Linglung

f.     Kejang

Ketika kita mengalami beberapa gejala di atas maka cepatlah uuntuk periksa ke dokter atau rumah sakit yang sudah ada cek laboratorium. Dengan begitu kita akan mengetahui berapa jumlah Hemoglobin, leoukosit, trombosit, hematokrit, dan eritrosit. Semua itu harus kita ketahui apakah sesuai nilai rujukan atau dibawah dari nilai rujukan.

            Pengalaman pribadi saya pada saat bulan Desember pertama kali saya di rawat di rumah sakit Syarif Hidayatullah Jakarta. Pada pukul 03:00 dini hari saya mengalami gejala nyeri perut yang sangat hebat, awalnya saya kira hanya maag saya kambuh namun ternyata saat di cek laboratorium lengkap dimulai dari hemoglobin hingga ke yang lainnya di bawah nilai rujukan. Maka dokter tersebut mendiagnosa saya pertama kali adalah Anemia Aplastik. Transfusi darah pertama kali yang masuk ke dalam tubuh saya berjumlah 2 kantong dengan golongan darah B Resus Positif. Setelah beberapa hari perawatan dan saya kontrol pertama kali ke rumah sakit. Terulang kembali pada bulan Februari saya mengalami gejala nyeri kaki dan nyeri lambung yang sangat hebat, lalu kembalilah ke Instalasi Gawat Darurat Rumah Sakit Syarif Hidayatullah, masih dengan hal yang sama yaitu tranfusi darah kembali sebanyak 2 kantong kembali. Pulang dan kontrol kedua ketika itu dokternya mengajukan rujukan ke Rumah Sakit Umum Pusat Fatmawati. Dimana rumah sakit yang saya bayangkan yaitu ketika kita di rawat di sana maka pulang sudah tak bernyawa karena bayangan saya buruk dan berarti penyakit saya ini sangat berat sampai dokter penyakit dalam syarif hidayatullah sudah tidak bisa menangani saya.

            Tanpa berpikir panjang saya pun memutuskan untuk ke rumah sakit hermina ciputat mungkin disana bisa menangani penyakit saya. Ketiga kali saya harus di bawa ke Intalasi Gawat Darurat Rumah Sakit Hermina, disitu saya sudah tak berdaya sama sekali dan saya benar-benar tidak tahu harus apa dengan penanganan yang cukup lambat, dan saya harus bisa menahan sakit dengan orang tua saya berdoa dan saya pun hanya bisa merintih, bershalawat, serta berdoa dalam hati. Dua hari saya di IGD dan pada saat pertama kali masuk ke ruang perawatan hermina saya harus masuk HCU (High Care Unit). Jujur pertama kali kaget banget langsung masuk ke ruang tersebut. Di ruang perawatan saya mendapatkan tranfusi darah sebanyak 4 kantong karena hemoglobin saya hanya berjumlah 4000 saja jauh dari nilai rujukan yang seharusnya 11.000. Namun mendapatkan darah tersebut keluarga saya harus membayar kurir untuk mengambil darah di PMII Kota Tangerang Selatan.

            Ada pengalaman berbeda dimasuk ke rumah sakit ke empat kalinya, pagi harinya saya masih mengikuti seminar fatayat Nahdlatul Ulama bersama Ning Fierda Rofi’i Yaqub terkait digital dan pada malam harinya saya harus masuk kembali ke Instalasi Gawat Darurat Rumah Sakit Hermina, saya bermalam disana lalu tertidurlah saya. Sekitar pukul 04:00 pagi hari tiba-tiba saya ingin dibawa ke Instalasi Care Unit (ICU) dan sudah memakai kateter atau sebuah pipa panjang yang terbuat dari bahan karet dan lentur untuk mengeluarkan cairan urine. Tanpa sempat salim dan pamitan kepada ibu dan bapak saya sudah berada di dalam ICU tersebut. Tangisan pecah dalam hati dengan berkata “ya allah aku ingin bersama ibu dan bapak ku maka jangan pisahkan aku lama-lama dengan mereka.” Hidup mandiri mulai ku asah dimulai dari makan sendiri, ambil minum sendiri walaupun jauh dan sakit saat bergerak dengan memakai kateter. Saat makan saya memikirkan apakah orang tuaku sudah makan atau masih sedih, nafsu makan turun drastis karena memikirkan orang tua di luar. Pemandangan yang sangat menegangkan di ruang ICU membuat semakin saya tak selera makan. Dimulai dari yang sakit berat sampai yang sudah berada di ujung nyawa. Sungguh sangat membuat saya tak lagi ingin masuk ke ruangan tersebut. Perawatan kelima, saya pun harus merasakan kembali untuk mendapatkan perawatan intensif dikarenakan Hemoglobin saya pada angka 4.000. Dengan angka tersebut membuat saya harus tranfusi darah 4 kantong kembali. Seperti biasa keluarga saya harus membayar seseorang untuk mengambil darah kembali di PMI Kota Tangerang Selatan. Namun di perawatan kelima saya tepatnya di RS Hermina Kota Tangerang Selatan, saya harus pulang dengan keadaan yang masih sangat-sangat lemah sampai saya tidak bisa berjalan sama sekali atau lebih tepatnya saya harus berbaring di kasur tanpa bisa bangun kembali.

Pada esok harinya, tante dan om saya memutuskan untuk dibawa ke Rumah Sakit besar yaitu RSUP Fatmawati. Masuklah ke IGD RSUP Fatmawati pertama kali melihat dalamnya sungguh rasanya saya ingin sekali keluar dari tempat tersebut karena banyaknya pasien yang membuat saya trauma dengan bunyi alat-alat seperti perlombaan mana yang tetap bertahan dan mana yang menyerah lebih dahulu. Saya menangis dan berkata “Alma ga mau disini pak, ayo kita pulang aja. Ikhlasin alma aja ya pak, alma pokoknya mau pulang ga mau disini”. Bapak saya berkata “alma harus sembuh, alma ga boleh bilang seperti itu pokoknya alma harus sembuh ada bapak sama mamah”. Tanpa bantahan akhirnya aku nurut walaupun aku harus nutup mata dan telinga ku sendiri. Saya menunggu di kasur yang sangat keras sekali sampai rasanya pinggang dan leher saya sangat sakit, AC yang sangat dingin membuat saya menggigil. Tanpa adanya persiapan apapun jadi saya merasa tidak nyaman. Sehari di IGD dengan suara bising alat-alat, suster yang keliling, bahkan sampai pasien yang gawat semua saya lihat dengan mata dan telinga saya sendiri.

Tepat pukul 22:00 WIB saya dipindahkan ke tempat kamar rawat di lantai 6 ruang teratai. Tepat pada jam itu datanglah dokter yang pertama kali memeriksa ku dengan pakaian yang rapih dan memakai masker serta kacamata. Membuat saya terpana yang awalnya merasakan sakit yang cukup menguras air mata dan hati yang hancur tetiba hilang semua rasa sakit tersebut hanya dalam beberapa menit. Karena ada dokter visit, beliau memperkenalkan diri “perkenalkan saya dokter bayu, yang akan memeriksa. Nama kaka siapa?”, nama saya almaidah dokter (saya  menjawab pertanyaan dokter bayu). “oh saya panggil ka alma aja ya, sekarang apa yang lagi kaka rasain sakitnya ?”, saya ceritakan apa yang saya rasakan dimulai dari sakit kaki, sakit pinggang, hingga sampai tidak bisa bangun duduk. Saya bilang kalau akan dilakukan tindakan BMP atau pengambilan cairan sumsum di bagian dada pada tanggal 06 Juli 2023.

            Di hari ke empat dalam masa perawatan di Rs sampai sekitar tujuh hari, saya sama sekali tidak ada asupan makanan maupun minuman yang masuk ditubuh saya. Akhirnya dokter bayu memutuskan untuk memberikan cairan yang seperti saya makan dua piring nasi. Karena hanya cairan pahit yang keluar dari lambung saya. Dokter bayu memberikan pesan kepada kedua orang tua saya “pak, ibu tolong jangan paksa ka alma untuk makan ya karena memang karena penyakitnya ini yang buat ga bisa makan, saya sudah kasih cairan yang seperti ka alma makan dua piring nasi lewat infusan kok. Jadi jangan di paksa ya.”

            Beberapa hari menuju tindakan BMP (Bone Marrow Puncie) atau yang biasa kita kenal yaitu pemeriksaan sumsum tulang belakang untuk mengetahui penyakit yang sebenarnya ada didalam tubuh kita. Di beberapa hari tersebut saya kehilangan diri saya pribadi. Seperti bukan diri saya akan tetapi merasakan saya sudah tiada di dunia ini. Entah hanya tangisan demi tangisan yang saya keluarkan pada saat itu memperbanyak baca istighfar dengan tasbih digital yang selalu saya pakai di jari saya dan khulashoh yang selalu saya bawa kemanapun saya pergi, khulashoh tersebut seperti teman saya, pacar saya, dan sumber kekuatan saya. Ratib Al-Haddad selalu saya dawamkan karena pesan dari Bunyai Hj. Nur Eka Fatimatuzzahroh maka dari itu saya selalu manut untuk mendawamkannya. Pada saat sepupu bapak saya datang yaitu ka Febriani Yahya beliau adalah wanita yang sangat kuat dan hebat, beliau sosok yang mengajarkan saya bahwa semua ini sudah menjadi takdir dari Allah SWT. Dengan kuat nya beliau menghadapi penyakit autoimunnya saya termotivasi menjadi sosok yang kuat juga seperti beliau. Ketika beliau datang saya langsung memeluknya dan mengeluarkan air mata tanpa malu apapun kepada beliau dengan berkata “ka ebi..sakit ka huuahhh alma takut ka..alma takut meninggal ka.” Lalu ka ebi pun bilang “menangislah sayang di pelukan ka ebi, apapun yang buat alma lega keluarkan saja sekarang.” Aku bertanya kembali “ka ebi di suntik di dada itu sakit ga sih?” lalu dengan tenang dan lembut ka ebi pun menjawab “sakit sedikit kok seperti di gigit semut aja.”

       “emang bener?, kan di suntiknya di dada, ngga meninggal kan ka tapi?.” Dengan polosnya diriku berkata seperti itu. Dengan sadar ka ebi pun tertawa menangkap ucapan polosku itu “hahhaa ngga lah ini buktinya ka ebi masih di depan alma berarti ngga meninggal dong, alma pasti kuat kok di tanamkan dalam pikiran alma bahwa ini ga sakit.” Mulai detik itu juga aku berpikir positif “ya ini tidak sakit, kecil kok yah gini doangan.” Padahal di bawah alam sadar saya banyak sekali ketakutan yang aku rasakan. Apakah aku bisa meninggal saat itu juga atau aku akan sembuh semua Allah SWT yang mengetahuinya.

“Alma harus makan ya sedikit aja nih aku suapin deh. Kapan lagi di suapin sama ka ebi ya kan hihi,” ka ebi dengan senyuman indah nan manis tersebut membujuk ku untuk makan walaupun sesuap saja karena sudah beberapa hari sama sekali tidak ada makanan dan cairan yang masuk ke dalam tubuh. Aku mencoba satu suapan dan benar saja keluar kembali baru saja masuk sendok ke dalam mulutku aku sudah mengeluarkan kembali. Dan ya menangis lagi dan lagi dalam pelukan ka ebi. Hanya tangisan yang aku bisa saat itu. “ka ebi ga bisa makan huuuah aku ga mau makan pahit ka.” Dengan melihat diriku yang tak bisa makan ka ebi menawarkan “Yaudah alma mau apa ? puding mau ?”. penawaran terbaik tapi apalah daya yang tak bisa makan apapun padahal itu kesukaan aku banget. “alma maunya pulang aja ga mau disini alma ga suka disini.”, jangan minta pulang sebelum dokter bayu bilang pulang. Sini ka ebi coba tenangin alma ya. Nanti alma ikutin kata ka ebi.

Aku mengikuti arahan yang ka ebi suruh dan aku pun merasakan ketenangan. Beberapa menit aku bisa tersenyum kembali dengan tulus. “alhamdulillah akhirnya alma bisa tenang, alma jangan takut lagi ya ada Allah SWT dan Rasulullah SAW yang selalu ada untuk alma. Ka ebi cuman perantara saja yang tuhan kirim untuk menenangkan alma. Disini kan ada dokter ganteng katanya kan hihi nah bisa jadi penyemangat tuh buat alma biar sembuh wkwk.”

Tepat pada tanggal 06 Juli 2023 saya melakukan tindakan BMP tersebut di gedung bougenvile, mamah, bapak, dan adik mamah saya selalu menemani saya. Tiba di depan ruangan saya mengencangkan membaca ratib al haddad itu agar saya bisa merasakan tenang dan tidak ada rasa ketakutan dalam diri saya. Saatnya saya masuk ke dalam ruangan wow ternyata dokter diah toh yang melakukan tindakannya. “eh alma ketemu lagi kita hihi.”, dengan tegur sapa beliau langsung mempersiapkan tindakan dengan dibantu oleh dua suster. “Gimana sudah siap?” beliau bertanya kepada saya dengan melihat kecemasan diwajah saya hihi. “insya Allah siap dok.” Ok kita mulai ya, ini ga sakit kok nanti dokter diah kasih obat anastesi nya (kekebalan).

Saya terus bershalawat kepada Nabi Muhammad SAW agar tidak merasakan kesakitan saat tindakan. Ya walaupun dipikir dengan logika suntik di dada itu mengerikan tapi alhamdulillah tidak sama sekali guyss. Sekitar 30 menit tindakan tersebut di lakukan, alhamdulillah tidak ada rasa sakit sedikitpun walaupun pada akhirnya ada pendaharan di dada saya keluar darah yang cukup banyak tapi saya sama sekali tidak merasakan sakit apapun dan suster langsung mengganti kembali perban serta pemakaian betadine ke dada saya. Sudah selesai mengganti perban nya, lalu suster tersebut berkata “ini jangan sampai kena air selama 3 hari ya cantik, nanti kalo sudah tiga hari baru boleh di lepas.”, “baik sus”. Kembalilah ke ruangan tersebut dan aku langsung terlelap hingga malam hari. Bangun-bangun ternyata sudah maghrib. Dokter bayu pada saat itu visit kembali dan bertanya “gimana sudah tindakan BMP nya?”. Alhamdulillah sudah dok.

Hari demi hari yang ku lihat dan ku rasakan hanya itu saja sangat membosankan. Rasanya aku ingin melihat ke luar rumah sakit dan menghirup udara segar. Aku melihat ponsel ku setelah beberapa hari di perawatan aku tidak menyentuh hp karena males dengan dunia persosmed an wkwk itulah mengapa aku sering menghilang sejak setahun kemarin. Saya hanya gunakan untuk saat ada kajian dan kuliah saja. Walaupun dalam perawatan aku tetap mengikuti kegiatan perkuliahan dan kajian itulah bentuk hiburan aku selama masa sumpek perawatan. Yang pertama kali aku lihat adalah status bunyai balqis iskandar, wah ternyata ada kajian bunyai balqis, aku langsung hubungi admin dan malam hari nya aku mengikuti hingga sampai jam 10 malam. Ke esokan harinya dokter bayu visit kembali, seperti biasa tiba-tiba saja datang saat aku membaca ratib al haddad. Dengan kaget aku melihat sesuatu aku bilang “astaghfirullah dok kaget dikirain siapa.” Dengan tanpa dosa sudah mengagetkan wkwk dokter bayu hanya ketawa saja. Pemeriksaan dimulai dari tensi sampai memakai stetoskop. Hanya beberapa menit saja beliau visit dan pergi dengan seperti biasa mengelus belakang punggung bahu ku sebagai bentuk memberikan ketenangan dan kesabaran kepada pasiennya.

Dokter bayu meminta bapak dan adik mamah untuk menjauh terlebih dahulu dari saya karena ada yang ingin dibicarakan. Entah percakapan apa yang mereka bicarakan dengan sangat serius muka mereka dan saya yang semakin penasaran hanya bisa memandang dan berfikir apa sih yang di bicarakan. Setelah mereka berbincang saya pun bertanya “apa yang di bicarakan sama dokter bayu pak?”, bapak pun menjawab dan tak ada maksud untuk buat aku cemas “cuman ngomong kalo entar udah membaik bisa pulang.” Mungkin maksudnya menghibur ku kali ya. Sebenarnya sih aku ga percaya apa yang di bilang bapak wkwk. Aku tanyalah kepada adik nya mamah “mi, apa yang di bicarain sama dokter bayu?.”, umi kasih tahu tapi kamu jangan nangis ya janji sama umi?. “Iya aku janji.”, kamu sakit leukimia al. Jedarr berasa di sambar petir dan mamah saya pun langsung lemes saat mendengar kata leukimia. Ternyata apa yang di bilang dokter diah saat kontrol waktu itu terjadi juga. Aku tidak bisa berfikir jernih dan wah apa umur saya sampai disini saja dan masih banyak lagi fikiran negatif yang ada di otak saya. Entah saya harus respon seperti apa, harus bagaimana, dan ga tahu mau ngapain. Ya itu bagaikan diri yang kesambar dengan petir. Adik dari mamah langsung mengabari saudara-saudara di grup whatsapp keluarga bahwa alma sakit leukimia (blood cancer). Aku tidak tahu reaksi mereka apa karena aku hanya menangis saat itu dan bengong saja dengan fikiran yang kacau ya sangat kacau bagaikan tak punya pegangan.

Beberapa hari kemudian dokter bayu visit dan ngobrol berdua bersamaku. “ka alma, sudah tahu penyakit ka alma apa ?” pertanyaan yang saat itu di lontarkan oleh dokter bayu kepadaku. Dan aku menjawab nya dengan senyuman dan tertawa kecil “sakit leukimia hihihi.” Mungkin orang lain ketika di tanya tersebut dan menjawabnya pasti tidak bisa karena itu penyakit yang nomor satu dengan dibarengi oleh kematian. Lalu dokter bayu pun bilang “gue ngeri nih sakit leukimia malah ketawa ketiwi.” Lalu di dalam hatiku berkata “ya terus gue harus reaksi apa guys toh ga bisa gue cabut juga nih penyakit wkwk.” Dengan penjelasan demi penjelasan dari dokter bayu yang tertatur dan tidak membuat pasien takut, tiba di saat kalimat “mematikan” jedarr air mata tidak bisa lagi aku tahan dan alhasil keluarlah di depan dokter bayu walaupun tidak deres hanya air mata kecil so manja aja wkwk. Melihat aku yang awalnya ketawa sampai mengeluarkan air mata hihi dokter bayu dengan sigap mengelus kembali punggung bahu ku. Dan aku bilang “apa harus dengan kemoterapi dok?”

“Penyakit leukimia ini memang seharusnya cara pengobatannya adalah dengan kemoterapi ka, tapi kalau ka alma tidak ingin kemoterapi tidak apa-apa semua keputusan ada di ka alma. Resiko yang paling tinggi adalah ‘Kematian’, ka alma mah masih muda cuman penyakit ini aja ga ada penyakit lain gue yakin alma pasti kuat dan semangat. Monggo (silahkan dalam bahasa jawa kromo) di diskusikan terlebih dahulu dengan bapak dan mamah. Besok saya kesini lagi ya ka.”  Begitulah penjelasan dari dokter bayu pada suasana sore hari yang sejuk, dokter yang mengerti keadaan kondisi pasien. Tanpa berfikir panjang aku telfon ka febriani yahya dengan tangisan yang biasa aku berikan kepada beliau “assalamualaikum ka ebi, tadi dokter bayu visit ka beliau bilang aku leukimia dan pengobatannya harus dengan kemoterapi. Beliau tidak memaksa sih tapi ini jalan satu-satunya pengobatan alma ka. Efek nya kematian..alma ga mau meninggal ka huuuahh alma takut ka..alma takutt..kaka alma harus gimana..” seperti itu lah percakapan ku sambil sesegukan dan air mata selalu berlinang di pipi ku. Beliau dengan sigap memahami kodisi ku yang entah tidak tahu harus melakukan apa dan dengan ketenangan beliau berkata “alma ga apa-apa kok kemoterapi ikuti perintah dokter bayu insya Allah dengan kepercayaan kita pasti akan di beri kemudahan, kekuatan, dan kesembuhan untuk alma. Alma harus kuat untuk mamah, bapak, dan orang-orang yang sayang sama alma banyak loh. Ayo alma berjuang ya sayang kita sama-sama bakal bantu alma, selalu di samping alma. Kalo alma mau nangis ga apa-apa kok nangis aja keluarin semuanya.”

Tepat pada jam 09:00 pagi hari dengan keadaan masih belum bisa masuk makanan dan minuman apapun, seperti biasa aku selalu mendawamkan ratib al haddad walaupun kondisi apapun semoga saya istiqomah sampai waktunya tiba bertemu dengan para kekasih di atas sana aamiin. Dokter bayu kembali mendatangi ruang perawatan saya. Memeriksa dengan stetoskop dan tensi tekanan darah. “alhamdulillah sudah normal tensinya ka, bagaimana ka apakah mau untuk kemoterapi?, bisa jadi nanti abis kemo ka alma bisa makan,nafsu makannya tambah, lebih sehat dari sekarang. Saya bakal selalu ada disamping ka alma.” Jawaban saya adalah “Alhamdulillah dok sudah menemukan jawabannya. Insya Allah alma siap kemoterapi dan alma siap menanggung segala resikonya walaupun nanti harus terhenti di tengah jalan alma sudah siap untuk semunya”. Baiklah ka alma nanti ada beberapa surat yang harus di isi ya. Sambil mengelus kembali pundak saya dan selalu memberikan energi positif kepada pasien nya.

Suasana masih seperti biasanya dengan banyaknya suara rintihan dan suster berhalu lalang dengan membawa dorongan tempat obat hihi itu yang selalu aku takuti karena disuntik obat lambung dan nyeri sampai ke urat menjalar hingga atas dan anak perempuan ini so kuat sambil mengelus pelan-pelan tangannya. Waktu hampir memasuki shalat dzuhur tiba-tiba adik dari mamah setelah dipanggil oleh suster bertanya kepada saya “alma punya temen yang darah nya b resus positif ga, sekitar 10 orang.” Aku yang langsung teringat dengan dosen kuliah ku sama seperti apa yang ku alami saat itu yaitu mencari donor darah. Tangisan itu pecah kembali dan pikiran mati ku semakin meningkat wah bener ini kayanya aku bakal mati lebih cepat sampai harus mencari donor darah sebanyak itu. “buat apa mi? Huuuahh mamah ini sama kaya almarhum pa rusli. Alma ga mau meninggal dulu mah.”

Mamah langsung membuka handphone dan mengabari ke saudara-saudara untuk membantu mencarikan pendonor darah. Dengan gerak cepat dan inisiatif dari keponakan mamah yaitu ka rahma ayu syafita beliau langsung membuat status dan diikuti oleh kaka-kaka sepupu lainnya. Cukup sulit memang mencari pendonor darah golongan B resus positif. Aku pun ikutan membuka sosial media dan men-tag instagram para nawaning jabodetabek dan yang aku kenal untuk membantu ku mencarikan pendonor darah daerah jabodetabek. Pesan terus masuk ke sosial media ku mendoakanku dan memberikan aku semangat. Terutama kepada bunyai eka fatimatuzzahroh beliau video call aku untuk memberikan dawuhan kepadaku dan memberikan semangat kepadaku, tanpa aku duga sama sekali ning nyai afie iskandar yang sedang berkhidmah dengan para jamaah yang berada di madinah beliau me whatsapp saya bahwa beliau kepikiran saya saat berada di madinah. Masya Allah tabarakallah beliau mendoakan saya disana dan saya merasa sangat senang sekali beruntung sekali telah dicintai oleh para wanita shalihah guru-guru mulia saya terutama bunyai eka, ning widad, ning nuvis, ning fierda, para nawaning, para teman-teman ahlul khidmah saadatul akhyar, para asatidzah lainnya. Itulah suatu kenikmatan dan hadiah yang Allah berikan kepada saya. Saya berharap bisa kembali menemui mereka secara dzohir. 

Keesokan harinya sepupu dari bapak mengabari melalui telephone, beliau berkata “assalamualaikum alma, ini ka ebi nanti ka ebi kesana ya ada yang mau donor darah tolong kirim alamatnya harus ke ruangan apa ya ke whatsapp ka ebi”, beliau langsung on the way ke RSUP Fatmawati, pada saat jam istirahat beliau menyempatkan waktu untuk bertemu denganku dalan keadaan sudah cukup lumayan membaik dari hari sebelumnya. Beliau menyapaku “hai alma, gimana kabarnya hari ini lebih sehat kan ?” dengan keramahan beliau yang sangat menjadi ciri khas beliau kepada semua orang baik yang mengenalnya maupun belum mengenalnya. Lalu, akupun menjawabnya “alhamdulillah bi kheyr ka ebi hehe sudah sedikit ga kaya orang bego sih wkwk.” Semuanya tertawa melihat aku yang sudah kembali ceria, hingga waktu sudah mendekati waktu sore hari beliau ada jam mengajar menggantikan dosen beliau di kampus beliau hihi dan beliau berpamitan.

Pada sore hari nya ada abang saya super duper ngeselin dan pengen banget gue usir rasanya wkwk tapi kalo ada dia rasanya gue ga ngerasa sakit sama sekali karena beliau selalu melakukan hal konyol yang buat gue ketawa. “ngapain lo disini yeahh btw lu abis dari kampus?” dengan nada yang songong gue alias gengsi ngomong baik-baik sama manusia seperti abang sepupu saya itu. “yeah bilang aja lo kangen gue kan, seneng kan lo gue tengokin” dengan tingkat kepedean yang sangat tinggi dan sangat menjijikan sekali mimik wajahnya wkwk tapi iya juga sih seneng ada nih anak wkwk. “lu mau jus jambu ga, ntar gue beliin.” Tumbenan amad nih anak ada angin apakah mau beliin adek yang imute ini jus wkwk biasanya harus ada pemaksaan terlebih dahulu dari adeknya karena manusia ini orang nya mageran dan paling sibuk dengan dunia perkuliahannya. “mau lah tapi jangan manis-manis ya gue tampol lu manis-manis terus es nya jangan banyak-banyak ya, btw makasih abang terjelekkk.” Sekitar tiga puluh menit ternyata rasanya pengen banget gue maki-maki nih anak wkwk es nya banyak terus manis banget jus nya wkwk “ih patan lu mah ini namanya gue ga bisa minum.” Dengan santai nya beliau malah menjawab “Wkwkwk sengaja gue beliin kek gtu”, memang manusia ini ga ada akhlak sama sekali huuuh rasanya pengen banget gue usir.

Mendekati hari terakhir pada ruangan rawat inap ya sekitar dua minggu saya merasakan ruangan yang banyak sekali kenangan dan tangisan demi tangisan, ketawa yang sudah mulai ceria, dan bertemu dengan orang-orang baik itulah yang menjadi cerita sejarah bagi diriku. Memang rasanya berat sekali menghadapi hari-hari disana. Sebelum esoknya di nyatakan boleh kembali pulang di hari jumat lebih tepatnya saya melakukan kemoterapi pertama dengan ditemani oleh umi saya. Tiba di tempat ruangan kemoterapi saya melihat lah kok di infus apakah ini seperti infusan biasa ? aku bertanya dalam hatiku yang sudah terbaring di tempat tidur dan dalam ruangan suhu sangat dingin sekali hehe tapi untung saya membawa selimut jadi amanlah tidak terlalu merasakan kedinginan.

Tiba-tiba ada dokter bayu sudah ada di ruangan kemoterapi menyapa saya “hai ka alma cie kemo pertama ya semangat ya ka pasti kuat kok cuman sebentar saja kok ga lama.” Aku sambil tersenyum dan seperti biasa aku selalu ditemani dengan buku khulashah yang sudah ku anggap seperti kekasih ku sendiri azekk. “nggih dok insya allah semangat hihi.” 

Aku membaca ratib al haddad dalam buku khulashah tersebut ternyata setelah selesai ku membaca ratib al haddad maka selesai pula kemoterapi ku yang pertama. Lalu aku di antar kembali ke ruangan teratai dan aku melihat dokter bayu di depan kamarku sedang berdiskusi dengan dokter senior nya. Aku kaget ketika beliau menyapa ku kembali padahal beliau sedang berbicara dengan dokter senior nya “halo ka alma eh udah selesai ya.” Aku yang hanya mendengar sapaan tanpa melihat nya karena menundukkan pandanganku hehe btw banyak banget dokter cowo lainnya dan aku tidak terlalu menyukai untuk melihat banyak anak cowo dalam suatu perkumpulan hihi. Lalu aku hanya tersenyum tanpa membalas sapaan dokter bayu hihi. (maaf dok menjaga marwah saya di depan dokter yang lainnya wkwk).

Sore hari nya dokter bayu visit kembali ke tempat ku dengan pakaian yang rapih dan seperti biasa membawa alat tensi. Aku yang sedang makan karena alhamdulillah sudah bisa masuk makanan dikarenakan abis kemoterapi nafsu makanku bertambah bahkan aku merasakan kelaperan terus rasanya ingin makan hihi. Beliau menyapa ku “alhamdulillah ka alma sudah bisa makan berarti infusan ini di copot aja ya ka hehe kan udah bisa makan, kan saya bilang apa bisa jadi dengan kemo ka alma udah ga mual lagi semoga segera sehat dan sembuh kembali ya ka. Gue yakin ka alma bisa sehat lagi. Minggu ka alma sudah bisa pulang ya.” Begitulah keyakinan beliau terhadap pasiennya, seakan-akan beliau memposisikan dirinya menjadi pasien.

Hari sabtu pagi pun tiba beliau seperti biasa visit dan ternyata hari tersebut adalah hari terakhir beliau suatu kenangan indah sebelum perpisahan beliau tertawa bahagia sampai aku berkata ke dokter bayu “ihh dok jangan ketawa-ketawa takutnya nanti suster ngelihat nya aneh.” Ucapku kepada dokter bayu. Dengan senyuman beliau dan beliau berkata “ngga kok ka wkwk tidak ada yang melihat juga suster nya wkwk.” Beliau pergi dan aku hanya melihatnya hingga tidak bisa ku lihat kembali.

Hari minggu adalah waktunya tiba ku pulang, aku berharap di hari ini adalah hari terakhir ku melihat dokter bayu dan ternyata aku salah, bertanya lah aku kepada suster yang sedang membuka infusan di tangan ku “sus dokter bayu visit tidak hari ini?”, lalu suster tersebut menjawab “hari ini dokter bayu sudah pindah ke rumah sakit lain ka.” Aku termenung dan menyesal kenapa ga hari kemarin aku meminta nomor telephone nya ya biar aku ga putus komunikasi sama beliau. Aku membuka kembali ponsel ku sudah beberapa hari saya menghilang dari dunia sosial media wkwk dan ada whatsapp dari ka ebi “gimana al udah bisa pulang hari ini”, iya ka alhamdulillah sudah bisa pulang tapi sedih karena dokter bayu nya udah pindah ke rs lain wkwk.”

“Ya dia sedih di tinggal dokter ganteng nya wkwk.” Ledek ka ebi kepada ku yang murung karena dokter ganteng nya pergi tanpa pamit wkwk. Aku punya inisiatif cari aja ya instagram nya tapi aku taunya nama nya dokter bayu doangan wkwk ga tau nama lengkapnya. Dapatlah instagram beliau ternyata beliau dokter internist dari rscm jakarta pusat. Alumi kedokteran kampus Universitas Indonesia.

 

BERSAMBUNG WKWK...  

Comments